BAB 1
A. PENDAHULUAN & LATAR BELAKANG
Masyarakat Indonesia
sebelum kedatangan Islam ada yang sudah menganut agama Hindu Budha maupun
menganut kepercayaan adat setempat, Islam harus menyesuaikan diri dengan budaya
lokal maupun kepercayaan yang sudah dianut daerah tersebut.
Selanjutnya terjadi proses akulturasi (pencampuran
budaya). Prose ini menghasilkan budaya baru yaitu perpaduan antara budaya
setempat dengan budaya Islam. Setiap wilayah di Indonesia mempunyai tradisi
yang berbeda, oleh karena itu proses akulturasi budaya Islam dengan budaya
setempat di setiap daerah terdapat perbedaan.
Sejarah perkembangan Islam di Indonesia yang diperkirakan telah
berlangsung selama tiga belas abad, menunjukkan ragam perubahan pola, gerakan
dan pemikiran keagamaan seiring dengan perubahan sejarah bangsa. Keragaman
demikian juga dapat melahirkan berbagai bentuk studi mengenai Islam di negeri
ini yang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Islam dilihat dari
perkembangan sosial umpamanya, hampir dalam setiap periode terdapat model-model
gerakan umat Islam. Sebagaimana terjadi pada zaman atau periode modern dan
kontemporer yang mengalami perkembangan yang cukup pesat.
Pada tahun 30
Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya
Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk
memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang
memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di
Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti
Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah
perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan
pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi
dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat
laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran.
Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali
menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia
berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat
persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang
menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim
dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan
bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari
kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur.
Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang
Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475
H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini
bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14
M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru
pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para
pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara
besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah
memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya
beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka,
Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah
campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab.
Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh
surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara
seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching
of Islam mengatakan bahwa
kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan
Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang,
tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara
yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.
Dengan masuk
Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan
Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari
pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara
juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut,
Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang
sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan
dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan
pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi.
Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan
menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum
kolonialis. Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan
Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang
kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka.
Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari
bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum
kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat
dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan
pribumi.
BAB II
B. PEMBAHASAN MASALAH
1. Pengertian Seni
Seni adalah penggunaan imajinasi manusia
secara kreatif untuk menikmati kehidupan. Oleh karena itu, bentuk kesenian
dapat muncul melalui benda-benda yang digunakan sehari-hari, serta dapat pula
melalui benda-benda khusus yang hanya digunakan untuk kepentingan tertentu
seperti ritual atau upacara. Seni dalam segala perwujudannya merupakan (salah
satu) ekspresi proses kebudayaan manusia, sekaligus pencerminan dari peradaban
suatu masyarakat atau bangsa pada suatu kurun waktu tertentu.
Allah SWT sangat menyukai seni, sebagaimana sabda
Rasulullah :
Artinya :
“Allah itu indah dan suka akan keindahan.” (H.R. Muslim)
2. Pengertian
Budaya Lokal
Budaya lokal adalah budaya asli suatu
kelompok masyarakat tertentu menurut JW. Ajawalia, budaya loial adalah ciri
khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Misalnya budaya masyarakat pedalaman
Sunda (Baduy) Budaya Nyangku di Panjalu Ciamis, budaya Seren Taun di Cicadas
dan lain-lain.
Ciri khas budaya tersebut merupakan
kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun, meskipun ditengah-tengah
perkembangannya mengalami perubahan nilai, perubahan dimaksud diakibatkan
beberapa hal, misalnya percepatan migrasi dan penyebaran media komunikasi
secara global sehingga tidak ada budaya lokal suatu kelompok masyarakat yang
masih sedekimian asli atau karena masyarakat sudah tidak memperhatikan lagi pada
budaya lokal tersebut.
3. Seni Budaya Pra
Islam
Produk seni budaya pra-Islam di Nusantara
dapat dibedakan dalam kategori kurun waktu, yakni seni budaya yang berasal dari
masa prasejarah, masa kontak dengan tradisi besar Hindu dan seni Budaya etnik
lokal yang masih ada sampai sekarang, yang diasumsikan berakar jauh ke masa
lampau.
Dari kurun prasejarah, kehidupan seni budaya
ditandai oleh pendirian monumen-monumen seremonial, baik berukuran kecil,
sedang, maupun besar, yakni berupa peninggalan yang dibuat dari susunan batu.
Salah satu rekayasa arsitektur yang dianggap berasal dari tradisi megalit atau
prasejarah adalah pendirian bangunan yang umum disebut dengan teras berundak
(teras piramida) seperti terdapat di Gunung Padang (Cianjur, Sukabumi), Cibalay
dan Kramat Kasang (Ciampea, Bogor).
Peninggalan sejenis ini ditemukan di
berbagai pelosok Nusantara. Bangunan teras berundak berasosiasi dengan satu
atau beberapa jenis unsur megalit lainnya, seperti menhir, arca batu, altar
batu, batu lumpang, dakon batu, pelinggih batu, tembok batu, jalanan berbatu,
dolmen dan lain-lain. Beberapa batu dari bangunan teras berundah itu diukur
dipahat dengan unsur dekoratif tertentu, seperti pola-pola geometris, pola
binatang dan lain-lain seperti yang terdapat Pugungraharjo (Lampung) dan Terjan
(Rembang).
Seni Utama dunia Islam, kaligrafi, mozaik, dan
arabesk sampai di Nusantara sebagai unsur seni baru. Dengan kepiawaian para
seniman Nusantara. Pada seni pahat juga tampak variasi dan pembauran antara
anasir-anasir asing dan lokal, termasuk pra Islam. Ini tampak pada hasil seni
pahat makam dengan kandungan kreativitas lokal (Barus, Limapuluh Kota, Binamu),
Hindu (Troloyo, Gresik, Airmata dan Astatinggi) dan asing (Pasai, Aceh, Ternate
Tidore) secara tipologis, nisan-nisan makam muslim Nusantara memperlihatkan
tipe-tipe Aceh, Demak Troloyo, Bugis Makassar, dan tipe-tipe lokal.
4. Islam dan Seni
Budaya Lokal
Dalam penyebaran agama Islam di Indonesia,
kedudukan seni dan budaya mempunyai peran yang cukup penting di dalamnya.
Berkaitan dengan itu, maka tidak anek para ulama zaman dulu begitu luas
pengetahuannya. Ia tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu
seni dan budaya. Dalam hal ini, kehidupan sastra di dunia pesantren bukan
merupakan barang baru. Dibacakannya Kasidah Barzanji yang berkisah tentang
keagungan Nabi Muhammad Saw merupakan salah satu dari sekian karya sastra yang
ditulis kalangan ulama pada zamannya.
Hubungan Islam dengan seni dapat pula
dilihat dari teks-teks klasik yang dikaji secara mendalam. Misalnya di dunia
pesantren tradisional, kisah-kisah tentang para nabi dan para sahabatnya,
pelajaran tentang haram, halal dan keimanan, dilantunkan dalam nadoman.
Lirik-lirik nadoman itu sendiri ditulis dalam bentuk puisi.
Wali-wali seperti Sunan Gunung Jati, Sunan
Bonang, Sunan Kudus, Sunan Drajat, dan Sunan Kalijaga berperan besar dalam
mengembangkan seni dan kebudayaan Jawa yang bernapaskan Islam. Mereka mampu
mentransformasikan bentuk-bentuk seni warisan Hindu menjadi bentuk-bentuk seni
baru bermuatan Islam. Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati sebagai contoh adalah
perintis penulisan puisi suluk atau tasawuf, yang pengaruhnya besar bagi
perkembangan sastra.
Begitu pula sebenarnya cukup banyak karya
seni yang dihasilkan para seniman muslim modern sejak zaman Hamka sampai kini,
khususnya dalam sastra, seni rupa, musik, seni suara dan teater yang
bernapaskan Islam.
Perlu dikemukakan bahwa sebelum orang Islam
datang ke Indonesia, mereka telah mengenal berbagai ragam hias Arabesk yang
kaya melalui kain, perabot rumah tangga, bagian-bagian kapal yang dihiasi dan
lain-lain. Pengkayaan motif yang bersifat lokal juga didorong oleh wawasan
bahwa "ayat-ayat Tuhan terbentang dalam alam dan diri manusia" jadi
tidak terbatas alam yang ada di negeri Arab atau Persia dan tak terbatas diri
manusia orang Arab dan Persia. Ingatlah Hamzah Fansuri berkata, Hamzah Fansuri
orang uryani seperti Ismail jadi qurbani bukannya Arabi lagi ajami sentiasa
wasil dengan yang baqi.
5. Integrasi Islam
dan Budaya Lokal
Islam di kawasan
Kepulauan Nusantara sesungguhnya telah berkembang dengan pesat karena melalui
proses akulturasi budaya lokal. Integrasi pemikiran Islam selalu disesuaikan
dengan kekhasan budaya lokal. Dalam konteks ini, dakwah Islamiyah selalu
melihat lingkungan sosial budaya dengan kacamata kearifan, kemampuan adaptasi
ini merupakan kecerdasan sosial, intelektual, dan spiritual yang dimiliki oleh
para ulama dahulu yang bertugas menyebarkan agama Islam.
Bukti-bukti seni budaya Islam Nusantara
telah merefleksikan bagaimana Islam sebagai ajaran samawi dan pranata
keagamaan, disebarkan dan disosialisasikan di Nusantara. Sosialisasi tersebut
telah menggunakan cara-cara damai dan memanfaatkan sumber daya kultur lokal
sebagai media komunikasi yang efektif.
BAB III
C. PENGERTIAN SENI BUDAYA LOKAL SEBAGAI TRADISI ISLAM
Masyarakat Indonesia sebelum kedatangan
Islam ada yang sudah menganut agama Hindu dan Budha maupun menganut kepercayaan
adat setempat. Para muballigh berpendapat bahwa agar bisa diterima oleh
masyarakat setempat, Islam harus menyesuaikan diri dengan budaya lokal
maupun kepercayaan yang sudah dianut dengan tidak menyimpang dari ajaran
Islam.Selanjutnya terjadi proses akulturasi (percampuran budaya). Proses ini
menghasilkan budaya baru yaitu perpaduan antara budaya setempat dengan budaya
Islam.
Setiap wilayah di Indonesia mempunyai tradisi yang
berbeda, oleh karena itu proses akulturasi budaya Islam dengan budaya setempat
di setiap daerah terdapat perbedaan.
1. Sumatera
Budaya yang sudah mengakar di Sumatera
adalah budaya Melayu berupa kesusasteraan. Akulturasi antara dua budaya
tersebut menimbulkan kesusasteraan Islam. Sehingga para ulama disamping sebagai
pendidik agama juga dikenal sebagai sastrawan, misalnya Hamzah Fansuri,
Syamsudin (Pasai), Abdurrauf (Singkil), dan Nuruddin ar Raniri. Ketiga ulama
tersebut banyak menulis sastra Melayu yang bercorak tasawwuf.
Beberapa karya besar dari masa ini adalah
Syarab al ‘Asyiqin dan Asrar al ‘Arifin (Hamzah Fansuri), Nur al Daqaiq
(Syamsudin), Bustan al Salatin (Nuruddin al Raniri). Karya-karya lainnya adalah
Taj al Salatin, Hikayat Iskandar Dzulqarnain, Hikayat Amir Hamzah, dan Hilayat
Aceh. Karya-karya tersebut sebagian besar berbentuk prosa. Bentuk sastra Melayu
lainnya adalah syair dan pantun.
2. Jawa
Sebelum Islam datang, di Jawa terdapat
budaya Jawa Kuno sebagai hasil akulturasi dengan budaya India yang masuk
bersama agama Hindu dan Budha. Bila dibandingkan dengan budaya Melayu, pengaruh
budaya Islam terhadap budaya Jawa lebih kecil. Hal ini terlihat misalnya
pada penggunaan huruf Arab lebih kecil dibanding huruf Jawa, kedua bentuk puisi
lebih sering digunakan dibanding prosa.
Wayang adalah salah satu budaya Jawa hasil
akulturasi dengan budaya India. Cerita-cerita pewayangan diambil dari kitab
Ramayana dan Bharatayudha. Setelah terjadi akulturasi dengan Islam tokoh-tokoh
dan cerita pewayangan diganti dengan cerita yang bernuansa Islam.
Demikian juga dengan wayang golek di daerah
Sunda, cerita-ceritanya merupakan gubahan dari cerita-cerita Islam seperti
tentang Amir Hamzah (Hamzah adalah paman Rasulullah SAW).
3. Sulawesi
Meskipun masyarakat Sulawesi baru memeluk
Islam pada abad ke-17, namun mereka mempunyai keteguhan terhadap ajaran Islam.
Karya budaya mereka yang bersifat Islami banyak berupa karya sastra terjemahan
dari karya berbahasa Arab dan Melayu, seperti karya Nuruddin al Raniri. Karya
lain yang bersifat asli adalah La Galigo (syair kepahlawanan raja Makassar).
Selain kesenian di atas terdapat pula bentuk
kesenian visual (seni rupa) seperti seni kerajinan, seni murni, seni terapan
dan ornament (hiasan). Ornament terdapat pada wadah, senjata, pakaian dan buku.
Bentuk hiasan pada ornament diambil dari bentuk flora, fauna dan grafis meniru
gaya hiasan Arab. Bentuk ornamen pada pakaian diwujudkan melalui teknik batik,
sulam dan bordir.
Ø Jenis Seni Budaya dan Tradisi yang bernilai Islam
Berbagai karya seni budaya tradisi
Islam yang berkembang di Indonesia, yang menjadi kekuatan untuk menjaga
kesatuan dan pergaulan, mengandung ajaran akhlaq mulia, yang digarap para da’i,
mubaalik, para wali, dan juga dorongan para raja-raja di Nusantara, antara lain
:
a) Karya Seni Rupa lokal
Tradisional
1. Seni Arsitektur Keraton dan Kasultanan
Arsitektur keratin dan kasultanan di
Nusantara, rata-rata bercorak tradisi religio-magis, yang terdiri dari: ruang
pasebahan, sitihinggil, alun-alun, pasar, dan masjid. Contohnya seperti istana
keratin Surakarta, Kasultanan Cirebon, Kasultanan Demak, dan sebagainya.
2. Makam atau Nisan
Makam dalam tradisi Islam di Indonesia
berbentuk mar,era tau batu dan bermahkota seperti kubah masjid (maesan),
terkadang berhiaskan tulisan kaligrafi atau arabeska. Contohnya seperti Makam
Sultan Malikus Shaleh di Samudra Pasai, makam para Wali di Jawa.
3. Bentuk Arsitek bangunan Masjid, Surau, Langgar khas Indonesia
Masjid di Indonesia beratap tumpang
mirip pura pada masa hindu, atap ini menjadi prototype sebagian besar masjid di
Indonesia. Perbedaannya hanya pada jumlah atap tumpangnya, ada yang bertumpang
3, 5, dan 6. Bentuk bangunan Masjid di Indonesia merupakan gabungan antara
konsep pura dan bangunan kelenteng.
4. Wayang
salah satu budaya Jawa hasil
akulturasi dengan budaya India. Cerita-cerita pewayangan diambil dari kitab
Ramayana dan Bharatayudha. Setelah terjadi akulturasi dengan Islam tokoh-tokoh
dan cerita pewayangan diganti dengan cerita yang bernuansa Islam. Bagi orang
jawa, wayang bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga tuntunan karenasarat
dengan pesan-pesan moral yang menjadi filsafat hidup orang Jawa.
b) Karya Seni Musik lokal
1. Shalawatan
Music Shalawatan merupakan music
perkusi terbang yang dipukil bergantian dengan sair dan puisi yang dilagukan
dengan irama Arab atau Jawa.
2. Macapat
Macapatan, berupa jenis lagu Jawa
yang sudah diatur komposisinya. Penampilan tanpa iringan music, tetapi hanya
vocal saja.
3. Orkes Gambus
Musik gambus mirip dengan
Shalawatan, tetapi alat-alat musiknya ditambah dengan viola accordion,
mandolin, dan bahkan beberapa alat music elektrik.
4. Gamelan Sekaten
Gamelan jawa yang ditabuh saat
upacara sekaten peng-islaman bagi yang akan masuk agama islam dengan pembacaan
syahadat. Sekaten ini dilaksanakan pada bulan maulud.
BAB IV
D. APRESIASI BUDAYA LOKAL SEBAGAI TRADISI ISLAM
Setiap daerah dimana Islam masuk sudah terdapat
tradisi masing-masing. Ada yang merupakan pengaruh Hindu dan Budha adapula
tradisi asli yang sudah turun menurun. Seperti halnya di Sumatera, di daerah
lainpun para mubaligh memilih mempertahankannya namun memberikan warna Islam.
Berikut ini beberapa contoh tradisi kesekuan di Indonesia yang
bernuansa Islam :
1. Tahlilan
Tahlilan adalah upacara kenduri
atau selamatan untuk berdo’a kepada Alloh dengan membaca surat Yasin dan
beberapa surat dan ayat pilihan lainnya, diikuti kalimat-kalimat tahlil
(laailaaha illallah), tahmid (Alhamdulillah) dan tasbih (subhanallah).
Biasanya diselenggarakan sebagai ucapan
syukur kepada Alloh SWT (tasyakuran) dan mendo’akan seseorang yang telah
meninggal dunia pada hari ke 3, 7, 40, 100, 1.000 dan khaul (tahunan). Tradisi
ini berasal dari kebiasaan orang-orang Hindu dan Budha yaitu Kenduri, selamatan
dan sesaji. Dalam agam Islam tradisi ini tidak dapat dibenarkan karena
mengandung unsure kemusyrikan. Dalam tahlilan sesaji digantikan dengan berkat
atau lauk-pauk yang bisa dibawa pulang oleh peserta. Ulama yang mengubah
tradisi ini adalah Sunan Kalijaga dengan maksud agar orang yang baru masuk
Islam tidak terkejut karena harus meninggalkan tradisi mereka, sehingga mereka
kembali ke agamanya.
2. Sekaten
Sekaten adalah upacara untuk
memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di lingkungan Keraton Yogyakarta atau
Maulud. Selain untuk Maulud, Sekaten diselenggarakan pada bulan Besar
(Dzulhijjah). Pada perayaan ini gamelan Sekati diarak dari Keraton ke halaman
mesjid Agung Yogya dan dibunyikan siang-malam sejak seminggu sebelum 12 Rabiul
Awal. Tradisi ini dipelopori oleh Sunan Bonang. Syair lagu berisi pesan tauhid
dan setiap bait lagu diselingi pengucapan dua kalimat syahadat atau
syahadatain, kemudian menjadi Sekaten.
3. Gerebeg Maulud
Acara ini merupakan puncak
peringatan maulud. Pada malam tanggal 11 Rabiul Awal ini, dengan Sri Sultan
beserta pembesar Keraton Yogya hadir di mesjid Agung. Dilanjutkandengan
pembacaan-pembacaan riwayat Nabi dengan ceramah agama.
4. Takbiran
Takbiran dilakukan dengan malam 1
Syawal (Idul Fitri) dengan mengucapkan takbir bersama-sama di masjid/mushalla
ataupun berkeliling kampong (takbir keliling).
5. Muludan
Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad
SAW dilakukan dengan mengadakan Muludan. Peringatan ini dipelopori oleh Sultan
Muhammad Al Fatihuntuk membangkitkan semangat pasukan Muslim pada perang salib.
Peringatan Maulid Nabi sebenarnya tidak diperintahkan oleh Nabi melainkan
budaya agama semata. Di Indonesia peringatan ini dilaksanakan oleh seluruh
lapisan masyarakat, dari Presiden sampai rakyat biasa. Kegiatan ini diisi
dengan pembacaan riwayat nabi (Barzanji) maupun kegiatan lainnya seperti
perlombaa-perlombaan yang bersifat Islami.
6. Tabut/Tabuit
Dilaksanakan pada hari asyura (10
Muharram) untuk memperingati pembantaian Hasan dan Husain bin Ali bin Abi
Thalib (cucu Rosulullah) oleh pasukan Yazid bin Muawiyah di Karbela. Dilakukan
dengan mengarak usungan berwarna-warni (tabut) di pinggir pantai kemudian
dibuang ke laut lepas. Pengarakan biasanya dilaksanakan setelah terlaksananya
acara lainnya dengan menghidangkan beraneka macam hidangan makanan. Upacara ini
dilaksanakan secara turun temurun di daerah Pariaman (Sumatera Barat) dan
Bengkulu.
7. Adat Basandi Syara’, Sara’ Basandi Kitabulloh
Masyarakat Minangkabau dikenal kuat
dalam menjalankan agama Islam, sehingga adat mereka dipautkan dengan sendi
Islam yaitu Al-Qur’an (Kitabullah). Adat Minagkabau kental dengan nuansa Islam
sehingga melahirkan semboyan adat basabdi syara, syara basandi kitabullah (Adat
bersendikan syara dan syara bersendikan Kitab Alloh).
8. Seni Tradisi Genjring
Seni tradisi ini banyak ditemukan di
daerah Purwokerto, dan Banyumas pada umumnya. Di kalangan masyarakat Banyumas,
kesenian tradisi ini lebih banyak yang berbasis di masjid. Pada masa lalu,
kesenian ini cukup efektif untuk melakukan pembinaan generasi muda, karena
hampir setiap malam anak-anak muda bertemu di masjid. Untuk mengisi waktu
senggang, mereka memainkan genjring bersama-sama di masjid. Namun saat ini
kesenian ini sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan kaum muda, sehingga
jumlahnya didominasi kaum tua (50 tahunan).
Dalam seni tradisi islam ini, syiiran
shalawat dilantunkan secara rampak dengan diiringi tabuhan rebana, tanpa
tarian. Oleh masyarakat lokal, tabuhan rebana ini disebut genjring. Hal ini
mungkin dimaksudkan untuk mendekati bunyi rebana yang mirip bunyi “jring”,
orang bilang “genringan”. Seperti halnya kesenian Islam lain, kesenian ini menggunakan
dasar dari kitab Al-Berjanji. Dimana sebuah kitab yang berisi tentang
puji-pujian kepada Nabi Muhammad.
Kesenian ini di masyarakat Banyumas
seringkali digunakan untuk mengarak sunatan. Dalam prosesi ini, gengring
dilakukan sambil jalan beberapa ratus meter menyambut datangnya pengantin
sunatan yang datang dari tempat disunat tersebut. Si anak dinaikkan becak yang
telah dihias, yang kemudian dibelakangnya diikuti para pemain genjring. Menurut
keterangan masyarakat Purwokerto dan Banyumas hal ini dimaksudkan selain untuk
menambah kemeriahan pesta, mengurangi rasa sakit pada si anak (karena perhatian
tertuju pada keramaian), juga dimaksudkan adanya hikmah dari pembacaan sholawat
tersebut.
Kesenian ini biasanya dimainkan oleh
antara 12 sampai 30 orang. Penabuh terbang bisa bergantian dan nyanyian
dilakukan secara serempak dengan menggunakan bahasa arab.
9. Kesenian Singkiran
Kesenian ini sangat jarang ditemui
karena semakin punah, seiring kemajuan jaman, meninggalnya para pelakunya, dan
sengaja di counter kelompok tertentu (islam modern) karena dianggap ada
penyimpangan dari Islam. Kesenian Singiran merupakan salah satu bagian integral
dari ekspresi seni tradisi ummat Islam. Kesenian ini berkembang seiring dengan
tradisi memperingati seribu hari kematian (3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari
dan 1000 hari) salah satu warga.
Jika dilihat dari isinya, seni tradisi
ini berisikan nasehat-nasehat bagi si mayat dan nasehat kebajikan bagi anak
cucu yang masih hidup untuk selalu mendoakan orang tua mereka.
Kelompok kesenian ini salah satunya
ditemukan di daerah Tamantirto, Kasihan, Bantul, DIY. Kelompok ini menamakan
keseniannya sebagai “ Singir Ndjaratan” yang artinya “tembang kematian”. Selain
menarasikan nasehat-nasehat kebajikan, kesenian ini juga dimaksudkan sebagai
upaya untuk mendoakan para leluhur melalui pembacaan kalimat tahlil yang
mengiringi pembacaan narasi syiiran. Kesenian ini semakin hari digerus oleh
perspektif Islam modernis dan banyak
tergantikan dengan tahlil dan yasinan. Kesenian ini tidak menggunakan alat
musik, namun diiringi tahlil bersama sepanjang pembacaan singir-singirnya.
Sedangkan irama atau langgam singir digunakan langgam-langgam macapat. Secara
garis besar kesenian ini diawali dengan pembacaan tahlil, kemudian bacaan
singir secara bergantian, dan kemudian pembacaan sholawat (srokal) serta
diakhiri dengan doa.
10. Kasidah
Kasidah (qasidah, qasida; bahasa Arab: “قصيدة”, bahasa Persia: قصیده atau چكامه dibaca: chakameh) adalah
bentuk syair epik kesusastraan Arab yang dinyanyikan. Penyanyi menyanyikan
lirik berisi puji-pujian (dakwah keagamaan
dan satire) untuk kaum muslim.
Lagu kasidah modern liriknya juga dibuat
dalam bahasa Indonesia selain
Arab. Grup kasidah modern membawa seorang penyanyi bintang yang dibantu paduan
suara wanita. Alat musik yang dimainkan adalah rebana dan mandolin, disertai alat-alat modern, misalnya: biola, gitar listrik,keyboard flute. Perintis kasidah modern adalah grup Nasida Ria dari Semarang yang semuanya perempuan.
Lagu yang top yakni Perdamaian dari Nasida Ria. Di tahun 1970-an, Bimbo, Koes Plus dan AKA mengedarkan
album kasidah modern dan lain-lain.
11. Sholawat Jawi
Kesenian Shalawat Jawi di temukan di
daerah Pleret, Bantul, dan beberapa juga sudah menyebar di sekitar kecamatan
Pleret, atau bahkan di sekitar Kabupaten Bantul. Kesenian ini merupakan salah
satu bentuk penegasan jawanisasi kesenian Islam. Kesenian yang berkembang
seiring dengan tradisi peringtaan Maulid Nabi ini mengartikulasikan syair atau syiiran
shalawat kepada Nabi Muhammad dengan medium bahasa Jawa, bahkan juga dengan
melodi-melodi Jawa (langgam sinom, dandang-gula, pangkur dan lain-lain).
Adalah Kyai Soleh yang menciptakan
tembang-tembang shalawat berbahasa Jawa yang sampai saat ini tulisannya menjadi
pedoman para pelaku seni sholawat jawi, meskipun beliau sudah lama meninggal.
Kyai Soleh merupakan seorang tokoh lokal Islam yang sekaligus seniman yang
memegang teguh prinsip-prinsip ber-Islam. Kesenian ini merupakan ekspresi
keberagamaan sekaligus ekspresi kesenian bagi pelakunya. Mereka mendapatkan
manfaat keberagamaan yang mententramkan hati (sebagai kubutuhan spiritualitas)
sekaligus kebutuhan akan keindahan (seni) juga terpenuhi. Kesenian tradisi
islam ini di dominasi oleh para oang tua ( rata-rata di atas 50 tahun) dan
regenerasi sepertinya tidak. Kalangan mudah lebih senang kesenian yang lebih
modern (model dan alatnya). Jadi tidak heran kesenian ini mulai jarang ditemui,
karena kelompok-kelompok kesenian ini semakin sedikit.
Selain tradisi tersebut masih banyak tradisi
lain yang berkembang di daerah atau suku-suku lainnya. Hal ini menunjukkan
perbedaan sikap masing-masing daerah pada saat menerima Islam. Tradisi-tradisi
tersebut menambah kekayaan tradisi Islam Indonesia.
12. Tari Zapin
Tari zapin bisa kita temukan di Riau. Tari
ini diiringi irama gambus, yang diperagakan oleh laki-laki yang berpasangan
dengan mengenakan sarung, kemeja, kopeah hitam dan songket dan ikat kepala
lacak/destar. Tari ini dipentaskan pada saat acara upacara pernikahan, khitanan
dan hari raya islam.
13. Tari seudati
Berasal dari Aceh umumnya diperankan oleh
laki-laki dengan menari dan membuat bunyi tabuhan dengan alat music tubuh
mereka sendiri, sewaktu menepuk tangan, dada, sisi tubuh dan menggertakan
jari-jarinya.
14. Santriswaran
Santriswaran adalah grup music dengan alat
terbang, kendang, dan kemanak. Nadanya mengiktui nada gamelan. Syair-syairnya
memuat ajaran-ajaran islam dan budaya jawa yang disisipi dengan selawat nabi.
Santriswaran dikembangkan oleh seniman keraton Surakarta.
15. Tari Menak
Diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX
raja jogyakarta, tari menak mirip wayang orang tetapi tari menak diambil dari
serat menak. Cerita menak adalah berbahasa jawa / sunda yang disadur dari
parsi.
16. Suluk
Suluk adalah tulisan dalam bahasa jawa
maupun arab yang berisi pandangan hidup orang jawa. Serat wirid adalah tulisan
pujangga jawa yang berisi bacaan-bacaan baik jawa maupun arab yang dibaca
berulang-ulang.
17. Megengan
Adalah upacara menyambut datangnya bulan
suci ramadhan, kegiatan utamanya yaitu dengan manabuh bedug sebagai tanda
jatuhnya tanggal 1 ramadhan.
18. Selikuran
Dilakukan dikeraton Surakarta dan Yogyakarta
setiap tanggal 21 Ramadhan yang bertujuan untuk menyambut malam lailatul qodar
Ø Apresiasi Terhadap
Seni Budaya
Seni budaya local yang benapaskan islam
tersebut adalah hasil para juru dakwah dimasa lalu yang kreatif, dimana para
juru dakwah mencari akal bagaimana supaya masyarakat yang sebelumnya masih kuat
memegang adat dan budaya sebelumnya beralih ke agama islam tanpa menyinggung
perasaan adat budaya sebelumnya yaitu hindu budha.
Kita perlu menghargai dan melestarikan seni budaya adat yang bernafaskan
islam, sepanjang tidak membawa dampak negative bagi aqidah keislaman dan tidak
mengakibatkan syirik dan penyimpangan ajaran.
Ø Seni Bangunan/Arsitektur
Seni bangunan di
Indonesia banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Hindu dan Buddha. Hal ini
disebabkan sebelum Islam masuk ke Indonesia banyak kerajaan-kerajaan yang
bercorak Hindu-Buddha. Sehingga bentuk bangunan pada waktu itu berupa
candi-candi untuk pemujaaan dewa-dewa dan roh leluhur. Selain dipengaruhi oleh
bentuk candi, juga dipengaruhi oleh bentuk bangunan dari bangsa Barat yang lama
menjajah Indonesia.
Setelah agama Islam datang ke Indonesia kemudian banyak bangunan yang bernuansa
Islam terutama bangunan ibadah untuk orang Islam Indonesia. Mulai dari masjid
kecil sampai masjid yang besar.
Berikut beberapa
bangunan yang bernuansa Islam di Indonesia.
â Gapura Masjid Kudus yang seperti
candi
â Masjid Raya Baiturrahman di Aceh
â Masjid Agung Banten di Banten
â Masjid Agung Demak di Demak
Ø Rumah Gadang
Gaya seni bina, pembinaan, hiasan bahagian
dalam dan luar, dan fungsi rumah mencerminkan kebudayaan dan nilai Minangkabau.
Ø Rumah Banjar
Mulai sebelum tahun
1871 sampai tahun 1935. Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak
abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera
yang kemudian memeluk agama Islam.
BAB V
KESIMPULAN DAN
SARAN
1. KESIMPULAN
Seni adalah penggunaan imajinasi manusia
secara kreatif untuk menikmati kehidupan. Budaya lokal adalah budaya asli suatu
kelompok masyarakat tertentu menurut JW. Ajawalia, budaya loial adalah ciri
khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal. Misalnya budaya masyarakat
pedalaman Sunda (Baduy) Budaya Nyangku di Panjalu Ciamis, budaya Seren Taun di
Cicadas dan lain-lain.
Produk seni budaya pra-Islam di Nusantara dapat
dibedakan dalam kategori kurun waktu, yakni seni budaya yang berasal dari masa
prasejarah, masa kontak dengan tradisi besar Hindu dan seni Budaya etnik lokal
yang masih ada sampai sekarang, yang diasumsikan berakar jauh ke masa lampau.
beberapa contoh penyebaran Islam di Nusantara
dalam kaitannya dengan budaya local yaitu, penyebaran budaya islam di maja
pahit . Islam di Majapahir dapat dilacak dari adanya makam Islam di sejumlah
tempat di Situs Trowulan. Diantaranya puluhan nisan batu kuno di pemakaman
Tralaya (Troloyo). Tralaya terletak di Dusun Sidodadi, Desa Sentonoreja,
Trowulan, Mojokerto. Tralaya hanya 2 km arah selatan Desa Trowulan pusat
petilasan Kotaraja (ibu kota) kerajaan Majapahit, atau sekitar 15 Km arah barat
daya ibu kota Kabupaten Mojokerto.
Penyebaran kebudayaan islam di Banten bisa
diidentifikasi degan menelusuri produk-produk kesusastraan seperti
naskah-naskah, babad atau buku-buku keagamaan berbagai cerita rakyat yang masih
hidup dalam ingatan masyarakat yang dituturkan oleh kelompok suku di Banten dan
Warisan Budaya Material (cultural heritage) dalam pengertian yang luas. Yang
termasuk dalam kategori terakhir ini adalah karya-karya arsitektur, teknologi,
kesenian dan sebagainya.
2. SARAN
Pembelajaran tentang seni budaya lokal sebagai
bagian dari tradisi islam nusantara akan lebih memahami tentang bagaimana islam
masuk ke Indonesia, bagaimana perjuangan para penyebar islam di nusantara
sehingga dapat meneladani dan mengharagai jasa - jasa para pahlawan agama dan
bangsa tersebut.
Pendalaman terhadap sejarah membuat seseorang
menjadi tahu dan mengerti serta bisa mengharagai pengorbanan para pendahulu
mereka, dan dapat melestarikan kebudayaan - kebudayaan yang telah ada, yang
tidak bertentangan dengan nilai - nilai moral dan agama.
